Sunday, August 16, 2009

Cory C. Aquino's Prayer

PRAYER FOR A HAPPY DEATH
BY CORY C. AQUINO

Almighty God, most merciful Father
You alone know the time
You alone know the hour
You alone know the moment
When I shall breathe my last.
So, remind me each day,
most loving Father
To be the best that I can be.
To be humble,
to be kind,
To be patient,
to be true.
To embrace what is good,
To reject what is evil,
To adore only You.

When the final moment does come
Let not my loved ones grieve for long.
Let them comfort each other
And let them know
how much happiness
They brought into my life.
Let them pray for me,
As I will continue to pray for them,
Hoping that they will always pray
for each other
Let them know that they made possible
whatever good I offered to our world.
And let them realize that our separation
Is just for a short while
As we prepare for our reunion in eternity
Our Father in heaven,
You alone are my hope.
You alone are my salvation.
Thank you for your unconditional love, Amen.

Thursday, May 7, 2009

Shalom Aleichem - Shalawat Global

Shalom Aleichem - Shalawat Global

Hebrew and Arabic mixed on medley (sholawat) by Kiai Kanjeng.
Property of Progress Yogyakarta, Indonesia.

http://www.padhangmbulan.com/
http://www.kiaikanjeng.com/

Shalom aleichem (or sholom aleichem) is a greeting version in Hebrew, literally meaning "Peace be upon you." The appropriate response is "Aleichem shalom," or "Upon you be peace."

This form of greeting was traditional among the Ashkenazi Jews communities of Eastern Europe. However, it is very similar to the Arabic-language greeting used by many Muslims throughout the world, assalamu alaikum. The Christian Maltese phrase, sliem ghalikom is cognate with both Arabic and Hebrew equivalents. The greeting is used in plural - so as to greet multiple people - even when greeting a lone individual. One religious explanation for this is that one greets both a body and a soul. But it ought to be noted that many plural Hebrew words are used in reference to something singular.
Shalom could be also interpreted as "The Peace": a peace personally felt, a deep calmness and mental balance, which is said to come to those who appreciate God.

Friday night Shabbat welcoming song.
Shalom Aleichem is also a traditional song sung Friday night at the beginning of Shabbat, the Jewish Sabbath. In this case the words are used to welcome in the angels who accompany a person home on the eve of the Sabbath. It can be sung with many different melodies, but it is always sung with great happiness and joy.

According to the Ashkenazi tradition, the song in Hebrew language transliteration is as follows:

Shalom aleichem malachei ha-shareis malachei elyon, mi-melech malchei ha-melachim Ha-Kadosh Baruch Hu.

Bo'achem le-shalom malachei ha-shalom malachei elyon, mi-melech malchei ha-melachim Ha-Kadosh Baruch Hu.

Barchuni le-shalom malachei ha-shalom malachei elyon, mi-melech malchei ha-melachim Ha-Kadosh Baruch Hu.

Tzeis'chem le-shalom malachei ha-shalom malachei elyon, mi-melech malchei ha-melachim Ha-Kadosh Baruch Hu.


The words to the song translate:
Peace upon you, ministering angels, messengers of the Most High, of the Supreme King of Kings, the Holy One, blessed be He.

Come in peace, messengers of peace, messengers of the Most High, of the Supreme King of Kings, the Holy One, blessed be He.

Bless me with peace, messengers of peace, messengers of the Most High, of the Supreme King of Kings, the Holy One, blessed be He.

May your departure be in peace, messengers of peace, messengers of the Most High, of the Supreme King of Kings, the Holy One, blessed be He.


Melodies:
The slow well-known melody for the song was composed by the American Rabbi Israel Goldfarb in May, 1918 while sitting near the Alma Mater statue in front Low Memorial Libraryat Columbia University. Goldfarb's work is often presumed to be a traditional Hasidic melody. He wrote in 1963, "The popularity of the melody traveled not only throughout this country but throughout the world, so that many people came to believe that the song was handed down from Mt. Sinai by Moses."


Saturday, April 11, 2009

Why do you seek the living one among the dead?

"Why look among the dead for someone who is alive? He is not here; he has risen. Remember what he told you when he was still in Galilee: that the Son of Man had to be handed over into the power of sinful men and be crucified, and rise again on the third day." (Luke 24,5-7)

Friday, March 6, 2009

Bhineka Tunggal Ika – Manguak keharmonisan dalam keberagaman di Indonesia


Konferensi yang berjudul Unity in Diversity: The Culture of Coexistence in Indonesia (Kesatuan dalam Keberagaman: Budaya Hidup Bersama di Indonesia) telah menampilkan Indonesia sebagai model hidup bersama secara harmonis dalam keragaman budaya dan agama.
Konferensi ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri Italia dalam kerjasama dengan Komunitas Sant’Egidio pada hari Rabo 4 Maret 2009 di Gedung Kementerian Luar Negeri Italia, Roma.
“Indonesia telah menjadi referensi untuk kehidupan bersama antar budaya dan agama dan dipandang sebagai jembatan antara Barat dan dunia Islam di Timur Jauh,” demikian ungkap Menlu Italia Franco Frattini saat membuka konferensi bersama dengan Menlu Indonesia Hassan Wirajuda.
Hadir sebagai pembicara dari Indonesia antara lain Ketua Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, Bactiar Effendi dan Azyumardi Azra, keduanya dari UIN Jakarta, Siti Musdah Mulia dari ICRP, Sekjen WALUBI Philip K. Wijaya dan Ketua KWI Mgr. Martinus D. Situmorang OFMCap. Sedang dari pihak Italia, tampil sebagai pembicara antara lain Andrea Riccardi, dosen sejarah kontemporer di Universitas Roma Tre dan pendiri Komunitas Sant’Egidio, dan Mgr. Vincenzo Paglia, Ketua Komisi Dialog dan Ekumenis Konferensi Para Uskup Italia.
Konferensi yang terbagi dalam dua sessi ini pertama membahas tema “Kristiani dan Islam untuk budaya hidup bersama”. Pada sessi kedua dibahas tema “Masyarakat Sipil, Islam dan Kehidupan bersama”
Frattini memuji usaha Indonesia sebagai negara multi kultural dan multi agama yang mendasarkan prinsip kenegaraannya pada Bhinekka Tunggal Ika. “Indonesia dalam sejarahnya telah menghasilkan model Islam yang khas, terbuka dan toleran, Islam alternatif, yang sangat dihargai dan pantas lebih dikenal di Barat,” lanjut Frattini.
Andrea Riccardi memandang Indonesia sebagai laboratorium hidup bersama. Pendiri Komunitas Sant’Egidio ini mengungkapkan perlunya visi untuk bisa membangun identitas diri di dunia yang makin majemuk ini. “Persis di hadapan tantangan global ini, Indonesia menawarkan visi peradaban hidup bersama di antara keberagaman,” tegas Riccardi.
Indonesia memiliki kekayaan keberagaman budaya dengan toleransi dan tradisi spiritualitas yang kuat. Islam di Indonesia sangat terkait dengan tradisi sufisme. Hidup bersama dalam kesatuan yang harmonis bukan berarti menanggalkan identitas iman, melainkan justru menuntut masing-masing semakin mendalam dalam identitas budaya dan agamanya. “Toleransi adalah bagian dari Islam,” demikian ungkap Hasyim Muzadi. “Konflik yang kadang muncul biasanya disebabkan oleh hal-hal yang pada dasarnya bukan langsung menyangkut agama atau iman,” tambah Muzadi.
Keberagaman budaya dan agama di Indonesia menjadi suatu kesempatan baik untuk membangun hidup bersama. Riccardi mengungkapkan bahwa mereka yang tergoda untuk menjadi puritan dan menginginkan homogen, sering kali bertindak demikian karena rasa ketakutan. Mengacu kepada Mahatma Gandhi, Riccardi menambahkan bahwa pembebasan yang sejati adalah tidak adanya rasa takut.
Mgr. Vincenzo Paglia mengungkapkan bahwa kesadaran baru setelah Konsili Vatikan II akan kesatuan rencana Allah untuk seluruh umat manusia menjadi landasan kuat bagi umat Katolik untuk menjunjung tinggi kehidupan bersama yang harmonis.
Sementara itu Mgr. Martinus Situmorang mengingatkan bahwa agama bisa menjadi pemersatu, namun juga bisa diperalat untuk memecah-belah masyarakat. Karenanya Situmorang mengingatkan bahwa “para pemimpin agama adalah kunci dalam usaha membangun kehidupan bersama yang harmonis di antara elemen masyarakat yang berbera-beda dan untuk memperkuat dialog antar mereka.” Ditambahkannya bahwa “ajaran para pemimpin agama harus diarahkan kepada nilai dan tujuan sejati dari agama-agama.” ***

[Artikel ini secara lebih singkat dimuat dalam majalah HIDUP, 29 Maret 2009, hlm. 30]

Untuk berita di media silahkan kunjungi:
Komunitas Sant'Egidio
DetikNews: (1), (2).
The Jakarta Post: (1), (2), (3), (4).
Untuk pendalaman mengenai tema ini, silahkah simak lebih lanjut: (1), (2), (3).


Sunday, February 1, 2009

Christianity, Buddhism and the Jesuits of East Asia

Area: Thailand – Indonesia.

Fr. Petrus Puspobinatmo, S.J.


Petrus is an Indonesian Jesuit who is scheduled to work in Thailand. He was born in 1968 in Muntilan in Central Java, and entered the Society of Jesus in 1988. After his novitiate in Girisonta in Central Java and Philosophy in Jakarta he did his regency in Thailand. During his regency he assisted in pastoral work at the University student chaplaincy, and here he assisted at many work camps where several Buddhist students participated. Later he started his theology at Gregorian University and was ordained a priest in the year 2000. Right now he is pursuing his doctoral research at the Institute of Spirituality in Gregorian University, and he is working on the topic of Comparative Spirituality. The title of his dissertation is Ignatian Spirituality meets Buddhist Wisdom: Human Maturation as an Integral part of Spiritual Progress. A Case Study in Thailand. Petrus has decided to work on the method of spiritual progress taught by ACARIYA MUN BHURIDATTA THERA (1870-1949), the founder of the Forest Tradition of Theravada Buddhism in Thailand.

Petrus is now at Gregorian University in Rome. He may be contacted at the following address:

Collegio S. Roberto Bellarmino
Via del Seminario 120
00186 Rome
Italy


Telephone: +39-06-695276642
Fax: +39-06-695 276 562
E-mail: puspobinatmo@unigre.it

URL: http://pweb.sophia.ac.jp/jesuit45/

DIALOGO SPIRITUALE *

di Petrus Puspobinatmo, S.J. – Istituto di Spiritualità, PUG – Roma


Il contesto: perché dialogo spirituale?


Vengo dall’Indonesia, un paese della maggioranza musulmana. E lavorerò in Tailandia, un paese della maggioranza buddista. In Asia, dovunque andiamo troviamo la gente di diverse grandi tradizioni religiose: Islam (in Indonesia, Malesia), Cristianesimo (nelle Filippine), Buddismo (in Sri Lanka, Tailandia, Myanmar, Cambogia, Vietnam), Indù (in India), Confucianismo, Taoismo, e diverse credenze religiose indigene, ecc. Viviamo in mezzo a loro. Ed è il motivo per prendere sul serio l’incontro con loro, per considerare la ricchezza delle loro tradizioni spirituali e per dare testimonianza viva della nostra spiritualità. Resto appassionato dall’incontro con la tradizione buddista della scuola Theravada in Tailandia e la sua spiritualità. Devo aggiungere subito, però, una nota: quando parliamo di spiritualità in questo contesto dobbiamo capirla nel senso molto largo, cioè la vita interiore, ciò che sboccia dal cuore dell’uomo.

Sto lavorando sul tema del metodo di progresso spirituale, paragonando proprio nella spiritualità Ignaziana e nel Buddismo della scuola Theravada in Tailandia. E’ una grande distanza perché si tratta da un lato di una tradizione teistica e dall’altro lato di una tradizione non-teistica. E’ possibile paragonarle? Trovo una struttura, una ‘logica’, che rende paragonabili le due tradizioni. E se ci sono dei beni in queste tradizioni, certamente sono dall’unica Sorgente. Mi convince questa saggezza ignaziana: “…vedere come tutti i beni e i doni discendano dall’alto… e lo stesso la giustizia, la bontà, la pietà, la misericordia, ecc., proprio come i raggi discendono dal sole, le acque dalla fonte, ecc.” (Cf. Esercizi Spirituali [= EESS] 237).


Come il DEI aiuta nel mio campo di ricerca?


Nel DEI non troviamo una voce sul Buddismo. Ciononostante, diverse voci sonopertinenti al mio campo di ricerca: Zen y Ejercicios Espirituales, Sadhana, Hinduismo. Non solo presentano le caratteristiche di ognuna delle tradizioni orientali trattate, ma indicano chiaramente i punti nodali dove c’è la possibilità d’incontro o dialogo tra spiritualità ignaziana e le discipline spirituali orientali. Inoltre, c’indicano diversi aspetti della spiritualità ignaziana come una guida per un dialogo fruttuoso con queste tradizioni.

Nella voce Zen y Ejercicios Espirituales, il Padre Bernard Senécal, SJ indica un abisso che separa lo Zen e gli Esercizi Spirituali. La tradizione Zen (Cinese: Chan) ha una coerenza molto forte come frutto dell’incontro fruttuoso fra il Buddismo dall’India e il taoismo della Cina. La via negativa dello Zen può condurre un praticante alla negazione di ogni fondamento metafisico. Un cristiano deve sufficientemente radicato nella propria tradizione cristiana ed essere maturo spiritualmente per poter entrare nel dialogo fruttuoso con lo Zen senza perdere il proprio orizzonte.

La voce Hinduismo, ci mostra tanti punti d’incontro possibili fra gli Esercizi Spirituali e il cammino mistico nel Bhagavad Gita (= Gita), uno degli scritti canonici dell’Indù. Ci sono dei chiari paralleli fra i due cammini spirituali: ambedue si presentano come un cammino mistico verso Dio; invitano a vedere Dio attivo e presente in tutte le cose; coinvolgono in un combattimento spirituale contro la forza del male; e ambedue mettono in un cammino di discernimento. Ciononostante, si mostra anche una grande differenza fra gli EESS e Gita. Il Signore nel Gita è la manifestazione mistica o cosmica della presenza divina, mentre il Signore negli EESS è la incarnazione storica di Dio in Gesù Cristo. Il Signore del Gita non si preoccupa con la sorte dell’uomo, mentre negli EESS il Salvatore patisce con i peccati dell’uomo. Il frutto della spiritualità di Gita è un equanimità in mezzo alla lotta della vita, mentre il frutto degli EESS è coinvolgimento nella lotta per il regno di Dio.

La voce Sadhana, ci presenta lo sforzo dell’Istituto di Sadhana con la figura di Padre Anthony de Mello, SJ per un’integrazione della tradizione spirituale cristiana, fondamentalmente occidentale, con la tradizione spirituale dell’India. Il metodo Sadhana ha accolto gli influssi delle grandi figure come Gandhi, Ramdas, Krishnamurti e Achan Chah. Cerca di aiutare il praticante a vivere profondamente attraverso l’attenzione nella quotidianità e semplicità per entrare nel mistero della vita, dell’amore e della trascendenza. Attraverso un linguaggio spirituale non esplicitamente cristiano, tenta di offrire un aiuto spirituale anche oltre i limiti della fede cristiana.

Le voci di stampo psicologico: psicología y Ejercicios: Gestalt, Focusing, MPA (Meditación profunda y autoconocimiento) mi permettono di valutare diverse tradizioni orientali, soprattutto la meditazione buddista Theravada, e di vedere i loro valori salutari dal punto di vista psicologico. Ciò che è buono e sano psicologicamente, può essere un appoggio secondario o una tappa introduttiva per un metodo nettamente cristiano. La MPA cerca d’essere di aiuto spiritualmente anche, come Sadhana, per i non cristiani; anzi può anche essere un aiuto, di fatto spirituale, per un pubblico di orientamento agnostico.

Le voci Islam, Increencia, cultura (inculturación), e diálogo interreligioso mi offrono una gamma ancora più ampia per vedere come la spiritualità ignaziana può e deve entrare nell’incontro con qualsiasi tradizione spirituale. E’, infatti, un servizio d’amore incontrare e condividere il bene con diverse persone da diverse tradizioni spirituali.

Altrettanto, quelle voci tipiche della spiritualità ignaziana sono ancora più pertinenti al mio campo di ricerca. Per poter entrare nel fecondo incontro con diverse tradizioni spirituali, devo prima di tutto approfondire la mia spiritualità cristiana e, ancora più specificata, ignaziana e gesuita.


Cosa manca nel DEI?


Come ho segnalato all’inizio, non trovo nessuna voce sul Buddismo. Certo la parola Buddismo è menzionata in vari luoghi, in diverse voci (a.e.: Zen y Ejercicios Espirituales, Sadhana, Hinduismo, ecc.). Ma c’è una grande tradizione spirituale proprio del Buddismo, sia della scuola Theravada che della Mahayana, e per questo merita una proporzionale attenzione.

La meditazione è centrale nell’insegnamento della vita interiore o spiritualità buddista. Lo scopo della meditazione è per purificare la mente da ogni tipo di lordura o macchia. Solo con la mente pura, l’uomo può vivere nell’equanimità senza essere turbato dalle cose che lo circondano e raggiungere una vera libertà dal circolo di rinascita. Un Arahan è un ideale o un santo buddista che, anche mentre vive nel mondo, ha raggiunto la libertà da ogni lordura e dopo la sua morte non rinascerà per sempre.

Ci sono diversi aspetti che possono essere luoghi d’incontro e dialogo fra spiritualità ignaziana e spiritualità tipica buddista: la visione sul mondo e sull’uomo (antropologia), l’idea di salvezza, di progresso spirituale, di purificazione; comprensione sul ruolo della mente e centralità del cuore; il ruolo della disciplina ascetica, ecc.

Nel mio studio sul metodo di progresso spirituale, ho trovato dei temi precisi che possono arricchire vicendevolmente la spiritualità ignaziana e quella buddista. Paralleli a sono il processo di purificazione (1 Settimana), il cambiamento di regola di discernimento (quella di 1 Sett. a quella di 2 Sett.), il ruolo di accompagnatore (kalyâna-mitta), centralità della mente o cuore. Nella scuola Theravada, praticamente non si distingue fra cuore e mente; nella lingua Tailandese si usa una unica parola (chitchai: da chit=citta= mente e chai=cuore) per indicare ambedue mente e cuore. Nella meditazione buddista, si addestra la potenzialità della mente, una cultura che noi cristiani od occidentali non conosciamo molto. Altrettanto noi abbiamo un concetto di persona così chiara, che i buddisti con fatica tentano di formulare soprattutto quando si tratta dei rapporti sociali.


* Presentato nell'Atto accademico "Presentazione del Diccionario de Espiritualidad Ignaciana," ( http://www.ignaziana.org/3-2007_4.pdf) presso l'Istituto di Spiritualità, Università Gregoriana Roma, il 23 maggio 2007. Pubblicato nel: http://www.ignaziana.org/rivista.html Edizione numero 3, 2007 (http://www.ignaziana.org/3-2007.pdf).